NILAI KEINDAHAN
TARI
Berbicara keindahan yang terbesit
pertama kali dipikan saya adalah karya yang sangat eksklusif dan bagus. Namun
sebenarnya bukan seperti itu. Keindahan menurut pandangan orang lain akan
berbeda dengan pandangan dari diri kita.
KEINDAHAN tidak nampak sebagai makna
nilai. Keindahan juga bukan merupakan suatu kualitas objek. Nilai keindahan
sebuah karya seni belum tentu sama indah dimata orang lain yang
memperhatikannya. Keindahan yang kita tangkap melalui panca indra dari sebuah
benda seni adalah semu. Hakikatnya keindahan berpedoman kepada pengertian yang
mengsyaratkan adanya kepantingan selera, pemahaman, kepekaan, dan apresiasi
makna seni dalam sebuah karya.
Wahana Komunikasi. Wahana Komunikasi
adalah bagaimana cara kita dalam mengapresiasi karya tersebut. Dalam memahami
keindahan karya tari kita tidak boleh masuk atau terpengaruh dengan dari mana
kaya seni itu berasal. Maka muncullah kesepakatan yang menyampaikan bahwa
keindahan tari ditetapkan sebagai kesepakatan budaya lingkungan alasan dimana
wirasa, wiraga, dan wirama dan gerak tari datang bersamaan. Sebagai catatan,
apabila sifat dan fungsinya seni tradisi, kita tetap mempertahankan yang
menjadi ciri khas pokok akar budaya setempat.
Dalam kenyataan inilah, situasi
keindahan makna sebuah nilai keindahan dapat terproyeksi secara benar, tanpa
intrik, dan pengaruh yang bakal menciptakan situasi dimana rasa keberpihakan
menjadi dewa dalam menentukan keindahan karya seni. Namun, penilaian suatu
keindahan tari tradisi daerah, contohnya Jawa, Bali, dan Sunda, telah mematok
sejumlah kriteria yang mencangkup beberapa unsur penting seperti terlihat dalam
Beberapa istilah dalam HASTO SAWONDO berikut ini :
HASTO SAWONDO ( Aturan Baku Dalam Gerak
Klasik Surakarta/Solo)
Pacak (Ekspresi
gerak) : Kriteria yang
ditetapkan dan ditaati dalam melakukan gerak. Penari mampu mencapai ekspresi
gerak dengan ketentuan karakter peran.
Luwes (karakter
peran) : Sifat selaras dan
harmonis penari dalam menghayati gerak. Penari harus mampu mengendalikan gerak,
bukan sifat aslinya atau lebih untuk karakter peran.
Pancat ( selaras/ serasi) : Kesinambungan motif gerak satu dengan
yang lainnya. Dalam tari, perubahan gerak harus selaras dan serasi.
Wilot (Teknik
gerak/menarik) : Kreativitas
penari dalam bergerak. Gaya gerak pribadi dalam teknik gerak jadi ketentuan.
Penari harus mampu menggerakkan tari dengan lebih menarik.
Lulut (menghayati
gerak) : Kritera dalam menghayati
gerak secara mengalir (mbanyu mili)
artinya rangkaian gerak lutut, dihafal berkesinambungan. Penari mampu
menghayati gerak dengan baik sehingga tercipta keeselarasan.
Ulat (Mimik) : Kriteria ekspresi mimik guna
mencapai dramatik, peran, dan ungkapan gerak yaitu ekspresi seperti marah,
sedih, tenang,, lucu, dan sebagainya.
Irama
(Ketepatan tempo) : Kriteria
mengatur tempo, dan tekanan gerak dipahamu dan dihayati berkaita dengan irama
tari dan music ketentuan gerakan tari.
Gendhing (
pencipta suasana) : Kriteria
pemahaman musik, gendhng, dan instrument menjadi penguasaan penari. Musik
iringan harus direfleksikan dengan baik melalui penampilan dan suasana.